Menjadi mahasiswa adalah masa yang penuh dengan kesempatan emas. Hal ini mengacu pada keberhasilan saya dalam mewujudkan mimpi masa kecil untuk pergi ke Jepang! Modal utamanya, masih berstatus mahasiswa.
Tokyo terkenal sebagai kota dengan biaya hidup tertinggi di dunia. Bagaimana tidak, ibukota Jepang ini memiliki ekonomi metropolitan terbesar dan merupakan satu dari tiga pusat keuangan global. Belum lagi, nilai yen terus meningkat tiap tahunnya. Lantas, mungkinkah saya yang mahasiswa dari kelas menengah ini mampu berkelana ke sana? Soal yang mesti dipikirkan matang-matang, tak hanya biaya hidup selama berlibur, tetapi juga uang transportasi pulang-pergi yang pastinya mahal.
Untungnya, sekitar April 2011 saya menemukan kesempatan untuk ikut serta dalam “Summer Program”, yaitu pertukaran mahasiswa selama enam belas hari di Tokyo. Penyelenggaranya adalah mahasiswa S1 Keio University. Mereka tergabung dalam Institute of International Relations, organisasi kampus yang menekuni seluk beluk hubungan internasional. Informasi ini saya peroleh dari milis organisasi serupa di Jakarta, yaitu Indonesian Student Association For International Studies (ISAFIS). Bedanya, ISAFIS bukan bagian universitas manapun.
Saya semakin bersemangat untuk berpartisipasi setelah membaca deskripsi Summer Program yang juga dikenal sebagai Tokyo International Week ini. Soalnya, panitia acara akan menanggung hampir semua kebutuhan penting para peserta selama berlangsungnya program, mulai dari akomodasi, makan, sampai transportasi. Peserta hanya diharuskan menanggung beban pribadi seperti transportasi dari dan ke Tokyo serta uang saku. Saya semakin merasa beruntung karena ayah yang pernah bekerja di perusahaan penerbangan ternama masih memiliki jatah terbang murah dengan maskapai tersebut. Artinya, uang yang perlu saya kumpulkan hanya untuk membayar sepuluh persen harga tiket, visa, dan jajan-jajan di sana. Whoo!
Sekitar sebulan kemudian, si panitia mengubungi via e-mail dan memberi tahu kabar baik bahwa saya lolos seleksi. Nah, tahap berikutnya adalah aplikasi visa ke Kedutaan Besar Jepang. Beberapa minggu setelahnya, panitia mengirimkan dokumen yang menjamin keberangkatan saya untuk kelengkapan visa. Dokumen ini dikenal dengan certificate of eligibility. Beruntungnya lagi, visa tersebut akhirnya digratiskan karena surat keterangan anggota dari ISAFIS yang telah saya lampirkan. Menjadi mahasiswa memang istimewa!
Pada 5 Agustus 2011 malam, saya pun berangkat ke Jepang dengan canggung lantaran kali itu pertama kalinya terbang sendirian ke luar negeri.
H-1 Program
Keesokan paginya saya tiba di Bandara Narita dan telah ditunggu oleh sekitar enam orang panitia, di antaranya sepasang Ketua dan Wakil IIR serta Summer Program, koresponden peserta sebelum keberangkatan, juga seorang penanggung jawab peserta. Yuka Kaneko adalah penanggung jawab diri saya selama program berlangsung.
Setelah berkenalan, Yuka mengantarkan saya dari bandara hingga ke rumah keluarga angkat naik kereta commuter line. Inilah saatnya untuk saling mengenal satu sama lain dan bercerita karena waktu tempuh yang cukup lama. Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam untuk mencapai stasiun terdekat dengan rumah Keluarga Kiuchi, the host family.
Di Stasiun Koenji, saya bertemu dengan Mamoru-san, si ayah angkat. Kemudian kami bertiga berjalan kaki menuju rumahnya. Waktu tempuhnya lima belas menit, bila menyesuaikan dengan kecepatan berjalan rata-rata orang Jepang. Lain lagi jika berjalan santai layaknya orang Indonesia. Jalanannya sangat variatif. Pertama-tama kami menusuri pertokoan di bawah jembatan rel kereta baru masuk ke kawasan perumahan dengan gang bercabang-cabang.

Sampai di rumah Keluarga Kiuchi, pakaian saya basah dengan peluh karena berjalan cepat dalam udara lembab dan cuaca panas. Sekedar informasi, musim panas di Jepang, khususnya Tokyo, membuat orang mudah berkeringat sekalipun di dalam rumah.
Kikue-san, ibu angkat saya menyambut kami dan telah menyiapkan makan siang. Hidangannya sandwich keju dan sedikit olesan pisang. Minumannya, ocha dingin atau es teh pahit khas Jepang. Pahit karena tehnya dicampur lagi dengan sepuluh macam herba. Kami pun menyantap makan siang sambill mengobrol untuk pertama kalinya, diiringi musik klasik yang diputar di komputer persis di belakang meja makan.
Malam harinya, pasangan Kiuchi dan anaknya, Saki-chan, mengajak saya berjalan-jalan di sekitar Koenji untuk menikmati suasana Festival Tanabata dan makan malam di restoran sushi. Warga sekitar bersepeda santai, sebagian besar berjalan-jalan dengan yukata, dan jajan-jajan di pasar malam. Saya sendiri juga jajan, memutuskan untuk membeli empat bungkus Chocobi untuk adik-adik di rumah. Namun, akhirnya Mamoru-san memaksa untuk membelikannya untuk saya.


Hari Pertama
Hari pertama program memang agak menegangkan sekaligus menggairahkan. Soalnya, di upacara pembuka setiap peserta harus mempresentasikan negara dan universitasnya di depan para hadirin: peserta, keluarga angkat, dan panitia Summer Program yang jumlahnya nyaris mencapai seratus orang. Lalu, tiap peserta tentunya akan berusaha saling berkenalan, berharap agar mereka dapat diterima dengan baik. Mungkin kekhawatiran ini, atau memang ‘keabsenan pikiran’, yang membuat saya lupa menggoreng dan membawa kerupuk ke opening ceremony. Tadinya, kerupuk ini hendak saya jadikan ‘perwakilan’ Indonesia di meja-meja para peserta. Apa boleh buat, hal itu baru teringat ketika kami sudah di kereta dan hampir sampai di lokasi acara. Keluarga angkat saya sampai tak bisa berkata-kata lagi selain, “ah...! You forget that?” Namun, panitia maklum dan tidak keberatan.
Acara pun dimulai dengan beberapa ice-breaking games di setiap meja. Lalu, kata-kata sambutan dan berbagai penjelasan rangkaian program disampaikan setiap penanggung jawab acara. Sampailah pada sesi presentasi yang mana tiap peserta dijatah untuk bicara selama lima menit. Saya sendiri memperkenalkan sedikit tentang Indonesia, Jakarta (termasuk soal kemacetannya), dan substansi utama yang diharapkan, yakni universitas dan organisasi mahasiswa yang diwakilkan. Setelah urusan public speaking beres, saya kembali ke tempat duduk dan menyimak presentasi peserta dari negara lain. Sesekali saya curi-curi pandang ke cemilan multinasional di meja kami. Saat itu, saya sedang berpuasa Ramadhan dan ibu angkat berbaik hati membungkuskan beberapa buah agar saya dapat menikmatinya sesudah buka puasa.


Upacara pembuka pun selesai dan kami, para peserta dari Belanda, Ceko, Denmark, Estonia, Indonesia, Israel, Jerman, Swedia, Swiss, dan Vietnam, saling berkenalan. Ketua Program dan Ketua IIR juga kembali menjelaskan program di hari-hari berikutnya dan membuka sesi tanya jawab.
Agenda selanjutnya, makan malam dan minum-minum bersama peserta dan panitia. Namun, karena saat itu masih sore, kami berjalan-jalan sebentar ke Tokyo Dome, stadion base ball terkenal di sana. Setelah langit agak gelap, barulah semuanya beranjak menuju restoran tempat kami berkumpul untuk merayakan perkenalan ini.


Nggak asyiknya puasa sendiri, di saat orang-orang lahap makan, saya hanya bisa mengobrol sembari dihibur panitia yang menghitung mundur waktu. Sesekali saya digoda cowok Denmark soal ketetapan hati untuk meneruskan puasa. Bahkan, peserta dari Jerman yang mengaku Atheist menunjukkan keheranannya soal alasan saya 'kuat' beragama. Ada-ada saja, memang, tapi itulah esensi mengikuti program pertukaran mahasiswa. Dari sinilah, saya belajar soal perbedaan-perbedaan yang lebih ekstrem lagi dan berusaha untuk mengerti serta menghargainya. Kegilaan orang Jepang ketika menenggak alkohol juga masuk hitungan. Dengan wajah memerah, mereka suka sekali berceloteh sambil teriak-teriak kalau sedang mabuk. Sebaliknya, para panitia pun berusaha memahami kondisi saya yang anti makan berbagai bentuk makanan babi. Mereka selalu memberi tahu makanan mana yang with dan no pork.
Hari Kedua
Transportation day adalah agenda kami hari itu. Peserta terbagi ke dalam kelompok-kelompok untuk menyelesaikan misi harian. Setiap kelompok terdiri atas dua orang peserta yang didampingi kira-kira sepuluh orang panitia. Tujuannya tentu agar kami tidak tersasar dan fokus pada misi utama.
Bersama Yuka dan beberapa anak buahnya, saya berkumpul di Shibuya, tepatnya di depan patung Hachiko. Kemudian panitia membagikan booklet yang menjelaskan tahapan-tahapan penyelesaian misi. Kami diminta untuk berkunjung ke beberapa tempat dan mengambil gambar berbagai hal ikonik di sana. Untuk menjangkau lokasi tersebut, peserta harus menggunakan transportasi umum yang disyaratkan pada booklet. Siapa cepat, mereka yang menang. Jadi, peserta harus mampu berstrategi agar dapat menyelesaikan semua misi secepat mungkin.
Kami pun naik commuter line, metro subway, dan bus kota. Tempat dikunjungi tim saya dengan transportasi umum, antara lain Roppongi Hills yang terkenal dengan pusat perkantoran, pemerintahan, dan hiburan malam bergengsi, 'gudang'-nya elektronik murah juga atribut anime Akihabara, serta kuil turistis Asakusa.
Misi-misi yang mesti kami penuhi, antara lain
- mengambil gambar Tokyo Tower dari gedung stasiun TV Jepang di Roppongi Hills,
- berfoto dengan tokoh kartun Jepang di tempat yang sama,
- mencoba purikura atau photo box khas Jepang dengan kostum di Akihabara (AKB),
- berfoto dengan otaku, para anime geek,
- mengambil gambar suasana pertokoan di Asakusa, dan lainnya.




Di AKB, banyak pelajar Tokyo yang bermain di game center atau sekedar bernasis ria di purikura. Sst... photo box ini terbilang canggih, lho! Soalnya, subjek foto bisa memberi beragam sentuhan pada hasil foto. Misalnya, pembesaran atau pengecilan bagian-bagian di wajah seperti mata dan pipi serta mempermulus kulit. Mereka juga bisa menghias foto dengan atribut huruf dan emoticon yang tersedia lengkap. Jika pelanggan ingin memperoleh soft copy-nya, mereka tinggal cantumkan alamat e-mail dan foto pilihan segera dikirim ke sana.
Akiba, nama lain Akihabara, juga terkenal dengan para gadis kawaii-nya yang suka berpenampilan a la cosplay. Tak heran, perempuan berkostum maido ada dimana-mana. Biasanya, mereka membagikan brosur kepada pejalan kaki di sepanjang pertokoan Akiba.
Satu informasi penting lagi, girl band nomor satu di Jepang, AKB48, markasnya di sini, lho!
Akihabara menjadi tempat favorit hari itu karena mengingatkan saya akan masa-masa SMP dulu. Ketika masih remaja, saya memang sedang gemar-gemarnya bermain game dan mengikuti perkembangan animasi Jepang.
Dari Akiba, kami beranjak ke Asakusa. Di Kuil Asakusa, kami agak terburu-buru karena dikejar waktu berkumpul. Namun, saya menyempatkan diri untuk melempar koin dan (berlagak) berdoa, sekedar ingin menyelami budaya orang Jepang. Natsuki, salah satu panitia yang begitu perhatian, menawarkan untuk mengambil kertas ramalan. Saya pikir, coba saja sekedar untuk iseng. Alhasil, saya mendapat ramalan nomor tujuh yang dikenal sebagai kesialan terburuk. Natuski langsung menenangkan saya dan bilang, untuk menghalangi kesialan itu, saya mesti mengikatkan kertas tersebut di kawat penawar dengan tangan kiri. Lantas saya langsung teringat dengan program pendakian Gunung Fuji keesokan harinya. "Jangan-jangan..." pikir saya. Apalagi, sebelum berangkat ke Jepang, saya menonton film Frozen dengan pacar. Apakah nasib saya juga akan mirip dengan mereka yang ada di dalam film itu? Duh!


Sebenarnya ada lagi misi yang tidak sempat kami selesaikan karena waktu yang terbatas. Kami salah strategi karena terlalu lama menunggu giliran berfoto di Akihabara.
Kami pun menjadi salah satu kelompok terakhir yang berkumpul di gedung pusat pemerintahan Tokyo di Roppongi Hills.
Dari sana, kami beranjak ke Shinjuku untuk membeli keperluan untuk mendaki Gunung Fuji. Setelah itu, Yuka mengantar saya sampai ke Stasiun Koenji dan dijemput oleh Saki bersama sepeda keranjangnya. Sesampainya di rumah Keluarga Kiuchi, Saki membuatkan peta agar ke depannya saya dapat berjalan sendiri dari stasiun ke rumah.
Bersambung...