Thursday, February 2, 2012

The Ex-Bedroom

These three days, I've been busy arranging a new bedroom. It's a birthday gift from mom and dad. My new room smells and feels similar to my ex-bedroom at the eighth floor of Yildiz Teknik Universitesi dorm, Turkey.

When I lay down on my bed in the middle of the night, I can really hear the sound of the main road behind my house from the window above me. There, I can also feel the cool wind sneaking through, then the typical smell of paint on the wall bursts. It smells similar to the dorm's bedroom which had just been built soon as I arrived at the campus. Such condition truly reminds me of my old bedroom somewhere far far away...

I was the first one who lived in that new bedroom dorm. That time I also stayed with three room mates: Fanny, Tuba (Turkey), and Hafiza (Afghanistan). I still remember that I was the latest person who fell asleep at the room most of the time. Even Fanny was once surprised when she woke up in the middle of the night and caught my silhouette with long hair facing the bedroom window. She thought I was a ghost.

During the time when I stayed up late, my eyes always couldn't stop seeing the amazing view of Istanbul City! There’s a kind of peace and feeling which made me relaxed while I was seeing that view, especially when I missed home so badly.

The smell of the 'new' room, the cool air that I could really feel on my face and skin, the sounds of the busy city, without silly klaxons of course, are so memorable.

I miss my ex-bed near the window. I miss Yildiz Campus. I miss Istanbul.

P.S. I lost my photo of the view because my laptop was stolen a year ago. Fortunately, Fanny have one. The dormitory from outside and the night view photos belong to Fanny Fajarianti.

Sunday, January 29, 2012

Exchange Singkat di Negeri Sakura (Bagian II)

Hari Ketiga

Datanglah hari yang sangat menantang: mendaki Fujiyama, gunung tertinggi di Jepang.

Saya menyiapkan segala perlengkapan dalam ransel, satu-satunya tas yang dibawa selama program berlangsung. Hasilnya, memang irit tentengan, tapi rasanya berat sekali. Usut punya usut barang yang memakan tempat adalah jaket parasut tebal untuk pendakian ini. Jaket tersebut mustahil saya tinggalkan mengingat saya tak kuat dingin. Suhu di atas Gunung Fuji bisa mencapai di bawah sepuluh derajat celsius. Dengan bobot yang hampir mencapai tujuh kilogram, saya memanggulnya selama perjalanan dari rumah ke meeting point di Universitas Keio.

Dari Keio, kami berangkat dengan bus. Perjalanan menuju villa di sekitar Gunung Fuji memakan waktu enam jam.

Dalam bus, di depan saya ada dua orang peserta dari Denmark yang sepanjang perjalanan tak henti-hentinya berbicara dalam Bahasa Dansk. Sulit sekali untuk nimbrung pembicaraan mereka. Di belakang tempat duduk saya ada Keshet dari Israel dan peserta Vietnam bernama Anh. Keshet orangnya suka ngomong dan sangat bersemangat dengan beragam barang ‘unik’ yang ia temukan di toko-toko sekitar Shinjuku. Salah satunya adalah kaleng berwarna merah muda bergambar anime girl berpakaian seksi. Dia curiga itu adalah sex toys dan mengaku sudah membeli mainan itu untuk rekan kerja lelakinya di Israel.

Saya sendiri duduk dengan Vlad, peserta dari Estonia, yang ternyata sangat hobi membuat film. Makanya, dia sering membawa handycam-nya kemana-mana. Kebetulan, saya suka film dan punya latar belakang penyiaran sehingga kami nyambung dalam membicarakan banyak hal. Mulai dari ide-idenya membuat film horor yang belum kesampaian dibuat sampai bercerita tentang film non-mainstream favorit. Salah satu kesamaan kami adalah suka berimajinasi dan memiliki banyak ide, namun sulit sekali untuk merealisasikannya. Saya pun curiga dan bertanya, “are you an Aquarius?” Dia terkejut dan menjawab, “yes! How do you know?” Dia memang tipikal cowok Aquarius.

Sesampainya di villa, kami mendapat jatah kamar. Saya sekamar dengan para panitia saja. Seharusnya peserta dari Filandia menjadi room mate saya, tapi dia batal berangkat ke Jepang.

Kamar kami cukup luas dengan pemandangan danau di depannya. Lantainya beralaskan tatami dengan lemari pintu yang sering muncul di kartun-kartun seperti Doraemon. Alas tidurnya pun berupa kasur lipat, mirip kasur yang digunakan Nobita di kamarnya. Sayang, tak ada waktu untuk bersantai karena kami hanya diberi waktu setengah jam untuk menyeleksi barang-barang bawaan. Meski saya sudah mengeliminasi banyak barang, ranselnya tetap saja berat. Perasaan saya mulai nggak enak. Sialnya lagi, setelah memperhatikan alas kaki yang digunakan peserta lain dan panitia, sepatu saya ternyata sangat tidak pas untuk mendaki gunung. Soalnya, saya hanya memakai running shoes. Padahal, akan jauh lebih aman bila pendaki menggunakan sepatu dengan alas yang tebal dan bergerigi.

Lamanya perjalanan dari villa menuju stasiun pertama Gunung Fuji adalah satu jam. Sesampainya di sana, seluruh pendaki dari Keio University berfoto bersama dan saling bersenda gurau. Khususnya, Keshet dan Viola yang bilang kalau mereka mau menjadi "the lazy group" yang jalannya santai selama pendakian. Saya pun direkrut untuk menjadi bagian ‘kelompok pemalas’ ini.

Awalnya, sih, ketawa-ketawa dan ngomongin orang sambil mendaki. Tapi, lama-kelamaan tanjakan semakin berat dan sedikit peserta yang berkata-kata soalnya capek berbicara sambil menanjak. Khususnya, setelah kami melewati bagian yang dikelilingi banyak pepohonan dengan jalan bebatuan. Semakin ke atas, jalanan makin tidak menarik. Kami berjalan menapaki tanah cokelat yang kering, sebelah kiri jurang, dan sebelah kanan gundukan pasir hitam pula. Sedikit sekali tanaman hijau di atas gunung ini selama musim panas.

Sebentar-sebentar si Keshet mengajak istirahat dan hanya saya yang ditarik; peserta lain menolak untuk rehat. Soalnya, kebanyakan peserta cewek berasal dari Eropa dan mereka sudah sering naik-turun gunung di negaranya. Sebut saja peserta perempuan dari Swedia, Swiss, dan Denmark. Mulanya, sekedar menemani, tapi lama-lama saya memang merasa perlu istirahat setiap sepuluh hingga lima belas menit sekali. Saking terkurasnya energi, cola dan cemilan manis seperti cokelat dan biskuit sudah kami habiskan. Di tengah perjalanan, kami berdua bertemu Rolf, peserta dari Jerman. Dia juga memilih berjalan lambat karena memiliki masalah serupa dengan kami, yaitu pusing, mual, kekurangan oksigen, dan darah rendah.

Suhu badan pun tak menentu. Kalau saya menambah lapisan pakaian dengan sweater, badan menjadi gerah karena banyak bergerak. Sementara jika melepaskannya, saya malah kedinginan.

Medan pendakian tambah menegangkan. Tak hanya kemiringan jalan yang semakin curam, kami mesti mendaki bebatuan dengan sedikit tancapan besi yang biasa dijadikan tumpuan. Karena takut menggelinding, saya pun mendaki dengan agak merangkak. Pergelangan kaki saya sampai pegal karena beberapa kali nyaris terpeleset dari batu-batu itu. Saya bergerak sangat pelan dan hati-hati karena takut jatuh. Maklum, saya bertandang ke Jepang tanpa asuransi jiwa apapun.

Di tengah pendakian berbatu itu, Keshet terkilir; kakinya keseleo dan sedikit luka. Sambil mendaki saya terus-terusan menyebut nama Sang Pencipta dengan harapan diberi perlindungan. Ingin lari dari pendakian ini sudah tak mungkin. Saat itu kami sudah berjalan kaki lebih dari empat jam. Hal yang memotivasi saya untuk lanjut adalah sugesti “I have no choices and I have to face it!” Oh, juga para lanjut usia dan anak kecil Jepang yang dengan gagah mampu menyanggupi berbagai rintangan tersebut.

Entah itu sudah di stasiun ke berapa dan hari mulai gelap. Rasanya agak kesal ketika saya membutuhkan toilet. Pasalnya, biaya buang air kecil dan besar di sana adalah seratus yen yang mana kalau dirupiahkan menjadi sekitar sepuluh ribu!

Untuk mengisi energi, saya menghabiskan sisa-sisa onigiri isi umeboshi dan rendang dari Indonesia yang diberikan Kikue-san. Panitia yang mendampingi kami tak pernah absen menyemprotkan tabung oksigen ke hidung saya. Terdengar lemah, namun memang itulah pengalaman pertama saya mendaki gunung.

Dari stasiun ketujuh menuju stasiun kedelapan, kami harus menggunakan senter kepala. Salahnya lagi, head light yang saya miliki terlalu ketat di kepala. Saya menjadi lebih pusing dengan lapisan ciput, kerudung, di tambah senter kepala. Karena tak kuat, senter kepala itu malah menjadi senter tangan yang saya tenteng-tenteng selama perjalanan. Beban ransel juga semakin berat, mungkin karena kekurangan energi, yang membuat saya berjalan membungkuk untuk menyeimbangkan diri dengan kemiringan lereng. Terkadang saya duduk di atas bebatuan untuk istirahat. Sesekali Ryusuke, pendamping setia selama pendakian, mengarahkan kembali tabung oksigen ke hidung saya.

Langit sudah gelap dan saat itu sepertinya sudah jam tujuh malam. Lampu-lampu pondok tempat peristirahatan kami mulai terlihat. Tandanya, tanjakan berpasir yang kami lalui ketika itu adalah medan ‘pertempuran’ terakhir untuk mencapai stasiun ke delapan. Kesalahan fatal menggunakan running shoes sangat terasa di sana. Sering kali saya terpeleset dan meluncur tak keruan karena pasir di tanjakan itu. Belum lagi, rasa sakit kepala yang terus-terusan kambuh. Ryusuke pun mendekat, menawarkan dirinya untuk memanggul ransel berat yang saya tanggung sejak di bawah sana. Setelah berkali-kali menolak untuk dibantu, akhirnya saya menyerah dan membiarkan Ryusuke memanggul ransel itu. Saya pun menjadi lebih fokus menyeimbangkan diri di lereng berpasir hingga sampai ke tempat tujuan sementara.

Kami tiba di pondokan sekitar jam delapan malam. Bisa ditebak, saya, Keshet, Rolf, dan satu teman seperjuangan lain dari Vietnam, Anh, adalah kelompok terkahir yang tiba di stasiun ke delapan itu. Ketika sampai, para pendaki sudah terlelap di tempat tidur bertingkat yang panjangnya memenuhi ujung ke ujung ruangan. Saya pribadi menyebutnya tempat tidur massal. Mereka tidur bersebelahan tanpa sekat apapun.

Sebelum tidur kami bertiga yang didampingi Ketua IIR Tsubasa hendak menyantap makan malam. Saya bersyukur membawa dua bungkus mi instan yang dapat diseduh di gelas. Soalnya, hidangan makan malam kali itu adalah kari babi. Cobaannya lagi, segelas kecil air panas dihargai seratus yen. Mungkin karena kasihan, Rolf bersedia membelikan saya satu gelas.

Ritual lain sebelum beristirahat pastinya mencuci muka, gosok gigi, dan buang air kecil. Khusus untuk saya, aktivitas tambahannya adalah mencopot lensa kontak. Untuk menggunakan fasilitas sink dan toilet ‘alam’ di pondokan, biayanya juga seratus yen. Karena memang alami, kami bertiga mati-matian menahan bau pesing yang menyeruak di dalam sana. Bilik-biliknya hanya menyediakan tisu, tanpa air. Pantas!

Menjelang tidur, Keshet dan Rolf berdebat soal keberangkatan jam dua pagi untuk melanjutkan perjalanan ke puncak gunung. Rolf meyakinkan saya untuk lanjut karena sangat memperhitungkan perjalanan yang telah dilalui. Di lain sisi, Keshet memengaruhi untuk tetap tinggal di sana hingga subuh. Katanya, jangan memaksakan diri bila kondisi fisik lemah dan matahari terbit tetap bisa dilihat di stasiun kedelapan. Perdebatan itu sempat membuat saya bingung bukan kepalang. “I will decide later, after I wake up at two,” saya berkata sambil menarik selimut.

Hampir semua orang sudah terlelap dan saya agak kedinginan. Saya mengambil balsem otot dari dalam tas dan mengoleskannya ke punggung juga sisi kepala. Aroma balsam tercium oleh hidung Rolf. “Is that tiger balm?” ia bertanya. Saya menanyakan balik soal benda itu dan Rolf menjelaskan tiger balm adalah sejenis balsem otot dari Cina. Ia kemudian meminta beberapa colek untuk menghangatkan badannya dan kembali berkata, “you should really go to the top tomorrow.”

Saya kembali merebahkan diri, di antara Keshet dan Rolf. Rasanya agak aneh tidur bersama orang asing. Memang itulah cara hidup pendaki di Jepang ketika di persinggahan. Mata sudah dipejamkan, tapi pikiran melayang entah ke mana. Saya masih bingung harus ikut atau tidak karena pendapat kedua orang ini sama-sama benar. Tidur menjadi tambah sulit ketika dengkuran cowok di sebelah saya memecah keheningan malam.

Suara gedebak-gedebuk kaki para pendaki yang siap menuju puncak membangunkan saya sekitar jam dua pagi. Entah kenapa saya langsung mantap memutuskan untuk tidak ikut serta dalam pendakian menuju puncak Gunung Fuji. Alasannya, mungkin, saya teringat akan peralatan pendakian yang kurang menunjang. Lalu saya ucapkan “good luck” kepada Rolf dan ia pergi dengan rombongan pendaki Keio University lainnya. Lama-kelamaan orang dalam ruangan itu hampir habis, tinggal saya dan Keshet yang akhirnya melanjutkan tidur. Dari tempat tidur tingkat satu kami pindah ke atasnya untuk memperoleh ruang gerak yang lebih luas lagi.

Jam empat pagi Keshet membangunkan saya. Marcel, peserta dari Belanda, dan Tsubasa sudah ada di belakang tempat saya tidur. Sambil melongok ke bawah, saya menyuruh mereka, termasuk Keshet, untuk ke luar terlebih dulu karena perlu membenahi kerudung.

Di luar, langit sudah agak terang dan saat itu jam setengah lima pagi. Mulanya, matahari mengintip dari balik awan. Lama-kelamaan sang surya meninggi. Saya baru merasakan manfaat dari jaket parasut hijau yang memberatkan ransel selama ini. Hawa di atas sana dingin sekali, sekitar tujuh derajat celsius, kata Tsubasa. Ada perasaan bangga dan sedikit kecewa ketika melihat penanda ketinggian di pagar pembatas. Kami berada di ketinggian 3200 meter dari 3776 meter. Itu berarti, sebenarnya saya hanya perlu mendaki 576 meter lagi untuk mencapai puncak! Tapi, tak apalah, safety first, bukan?

Sekitar setengah enam pagi, kami mulai menuruni Gunung Fuji. Tidak ada beban sama sekali ketika menuruni lereng gunung yang licin dan agak curam ini. Hal terpenting yang mesti saya lakukan adalah menyeimbangkan badan sambil mengerem-ngerem kaki agar tidak jatuh. Kalau kemarin pendakian menuju stasiun ke delapan memakan waktu delapan jam, penurunan gunung mencapai stasiun pertama ini hanya berlangsung kira-kira dua setengah jam! Waktu ini semakin tak terasa sambil berbincang-bincang dengan Marcel. Kami membicarakan banyak hal tentang negara masing-masing, dari isu kemanusiaan sampai lingkungan.

Saya memang menjadi bagian dari kelompok terakhir dalam pendakian. Namun, saya bersama Keshet dan Marcel akhirnya menjadi kelompok pertama yang mencapai titik awal pendakian kami di Gunung Fuji.

This would be the first and the last mountain-climbing experience in my life.

Bersambung...

Saturday, January 28, 2012

Exchange Singkat di Negeri Sakura (Bagian I)

Menjadi mahasiswa adalah masa yang penuh dengan kesempatan emas. Hal ini mengacu pada keberhasilan saya dalam mewujudkan mimpi masa kecil untuk pergi ke Jepang! Modal utamanya, masih berstatus mahasiswa.

Tokyo terkenal sebagai kota dengan biaya hidup tertinggi di dunia. Bagaimana tidak, ibukota Jepang ini memiliki ekonomi metropolitan terbesar dan merupakan satu dari tiga pusat keuangan global. Belum lagi, nilai yen terus meningkat tiap tahunnya. Lantas, mungkinkah saya yang mahasiswa dari kelas menengah ini mampu berkelana ke sana? Soal yang mesti dipikirkan matang-matang, tak hanya biaya hidup selama berlibur, tetapi juga uang transportasi pulang-pergi yang pastinya mahal.

Untungnya, sekitar April 2011 saya menemukan kesempatan untuk ikut serta dalam “Summer Program”, yaitu pertukaran mahasiswa selama enam belas hari di Tokyo. Penyelenggaranya adalah mahasiswa S1 Keio University. Mereka tergabung dalam Institute of International Relations, organisasi kampus yang menekuni seluk beluk hubungan internasional. Informasi ini saya peroleh dari milis organisasi serupa di Jakarta, yaitu Indonesian Student Association For International Studies (ISAFIS). Bedanya, ISAFIS bukan bagian universitas manapun.

Saya semakin bersemangat untuk berpartisipasi setelah membaca deskripsi Summer Program yang juga dikenal sebagai Tokyo International Week ini. Soalnya, panitia acara akan menanggung hampir semua kebutuhan penting para peserta selama berlangsungnya program, mulai dari akomodasi, makan, sampai transportasi. Peserta hanya diharuskan menanggung beban pribadi seperti transportasi dari dan ke Tokyo serta uang saku. Saya semakin merasa beruntung karena ayah yang pernah bekerja di perusahaan penerbangan ternama masih memiliki jatah terbang murah dengan maskapai tersebut. Artinya, uang yang perlu saya kumpulkan hanya untuk membayar sepuluh persen harga tiket, visa, dan jajan-jajan di sana. Whoo!

Sekitar sebulan kemudian, si panitia mengubungi via e-mail dan memberi tahu kabar baik bahwa saya lolos seleksi. Nah, tahap berikutnya adalah aplikasi visa ke Kedutaan Besar Jepang. Beberapa minggu setelahnya, panitia mengirimkan dokumen yang menjamin keberangkatan saya untuk kelengkapan visa. Dokumen ini dikenal dengan certificate of eligibility. Beruntungnya lagi, visa tersebut akhirnya digratiskan karena surat keterangan anggota dari ISAFIS yang telah saya lampirkan. Menjadi mahasiswa memang istimewa!

Pada 5 Agustus 2011 malam, saya pun berangkat ke Jepang dengan canggung lantaran kali itu pertama kalinya terbang sendirian ke luar negeri.

H-1 Program

Keesokan paginya saya tiba di Bandara Narita dan telah ditunggu oleh sekitar enam orang panitia, di antaranya sepasang Ketua dan Wakil IIR serta Summer Program, koresponden peserta sebelum keberangkatan, juga seorang penanggung jawab peserta. Yuka Kaneko adalah penanggung jawab diri saya selama program berlangsung.

Setelah berkenalan, Yuka mengantarkan saya dari bandara hingga ke rumah keluarga angkat naik kereta commuter line. Inilah saatnya untuk saling mengenal satu sama lain dan bercerita karena waktu tempuh yang cukup lama. Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam untuk mencapai stasiun terdekat dengan rumah Keluarga Kiuchi, the host family.

Di Stasiun Koenji, saya bertemu dengan Mamoru-san, si ayah angkat. Kemudian kami bertiga berjalan kaki menuju rumahnya. Waktu tempuhnya lima belas menit, bila menyesuaikan dengan kecepatan berjalan rata-rata orang Jepang. Lain lagi jika berjalan santai layaknya orang Indonesia. Jalanannya sangat variatif. Pertama-tama kami menusuri pertokoan di bawah jembatan rel kereta baru masuk ke kawasan perumahan dengan gang bercabang-cabang.

Sampai di rumah Keluarga Kiuchi, pakaian saya basah dengan peluh karena berjalan cepat dalam udara lembab dan cuaca panas. Sekedar informasi, musim panas di Jepang, khususnya Tokyo, membuat orang mudah berkeringat sekalipun di dalam rumah.

Kikue-san, ibu angkat saya menyambut kami dan telah menyiapkan makan siang. Hidangannya sandwich keju dan sedikit olesan pisang. Minumannya, ocha dingin atau es teh pahit khas Jepang. Pahit karena tehnya dicampur lagi dengan sepuluh macam herba. Kami pun menyantap makan siang sambill mengobrol untuk pertama kalinya, diiringi musik klasik yang diputar di komputer persis di belakang meja makan.

Malam harinya, pasangan Kiuchi dan anaknya, Saki-chan, mengajak saya berjalan-jalan di sekitar Koenji untuk menikmati suasana Festival Tanabata dan makan malam di restoran sushi. Warga sekitar bersepeda santai, sebagian besar berjalan-jalan dengan yukata, dan jajan-jajan di pasar malam. Saya sendiri juga jajan, memutuskan untuk membeli empat bungkus Chocobi untuk adik-adik di rumah. Namun, akhirnya Mamoru-san memaksa untuk membelikannya untuk saya.

Hari Pertama

Hari pertama program memang agak menegangkan sekaligus menggairahkan. Soalnya, di upacara pembuka setiap peserta harus mempresentasikan negara dan universitasnya di depan para hadirin: peserta, keluarga angkat, dan panitia Summer Program yang jumlahnya nyaris mencapai seratus orang. Lalu, tiap peserta tentunya akan berusaha saling berkenalan, berharap agar mereka dapat diterima dengan baik. Mungkin kekhawatiran ini, atau memang ‘keabsenan pikiran’, yang membuat saya lupa menggoreng dan membawa kerupuk ke opening ceremony. Tadinya, kerupuk ini hendak saya jadikan ‘perwakilan’ Indonesia di meja-meja para peserta. Apa boleh buat, hal itu baru teringat ketika kami sudah di kereta dan hampir sampai di lokasi acara. Keluarga angkat saya sampai tak bisa berkata-kata lagi selain, “ah...! You forget that?” Namun, panitia maklum dan tidak keberatan.

Acara pun dimulai dengan beberapa ice-breaking games di setiap meja. Lalu, kata-kata sambutan dan berbagai penjelasan rangkaian program disampaikan setiap penanggung jawab acara. Sampailah pada sesi presentasi yang mana tiap peserta dijatah untuk bicara selama lima menit. Saya sendiri memperkenalkan sedikit tentang Indonesia, Jakarta (termasuk soal kemacetannya), dan substansi utama yang diharapkan, yakni universitas dan organisasi mahasiswa yang diwakilkan. Setelah urusan public speaking beres, saya kembali ke tempat duduk dan menyimak presentasi peserta dari negara lain. Sesekali saya curi-curi pandang ke cemilan multinasional di meja kami. Saat itu, saya sedang berpuasa Ramadhan dan ibu angkat berbaik hati membungkuskan beberapa buah agar saya dapat menikmatinya sesudah buka puasa.

Upacara pembuka pun selesai dan kami, para peserta dari Belanda, Ceko, Denmark, Estonia, Indonesia, Israel, Jerman, Swedia, Swiss, dan Vietnam, saling berkenalan. Ketua Program dan Ketua IIR juga kembali menjelaskan program di hari-hari berikutnya dan membuka sesi tanya jawab.

Agenda selanjutnya, makan malam dan minum-minum bersama peserta dan panitia. Namun, karena saat itu masih sore, kami berjalan-jalan sebentar ke Tokyo Dome, stadion base ball terkenal di sana. Setelah langit agak gelap, barulah semuanya beranjak menuju restoran tempat kami berkumpul untuk merayakan perkenalan ini.

Nggak asyiknya puasa sendiri, di saat orang-orang lahap makan, saya hanya bisa mengobrol sembari dihibur panitia yang menghitung mundur waktu. Sesekali saya digoda cowok Denmark soal ketetapan hati untuk meneruskan puasa. Bahkan, peserta dari Jerman yang mengaku Atheist menunjukkan keheranannya soal alasan saya 'kuat' beragama. Ada-ada saja, memang, tapi itulah esensi mengikuti program pertukaran mahasiswa. Dari sinilah, saya belajar soal perbedaan-perbedaan yang lebih ekstrem lagi dan berusaha untuk mengerti serta menghargainya. Kegilaan orang Jepang ketika menenggak alkohol juga masuk hitungan. Dengan wajah memerah, mereka suka sekali berceloteh sambil teriak-teriak kalau sedang mabuk. Sebaliknya, para panitia pun berusaha memahami kondisi saya yang anti makan berbagai bentuk makanan babi. Mereka selalu memberi tahu makanan mana yang with dan no pork.

Hari Kedua

Transportation day adalah agenda kami hari itu. Peserta terbagi ke dalam kelompok-kelompok untuk menyelesaikan misi harian. Setiap kelompok terdiri atas dua orang peserta yang didampingi kira-kira sepuluh orang panitia. Tujuannya tentu agar kami tidak tersasar dan fokus pada misi utama.

Bersama Yuka dan beberapa anak buahnya, saya berkumpul di Shibuya, tepatnya di depan patung Hachiko. Kemudian panitia membagikan booklet yang menjelaskan tahapan-tahapan penyelesaian misi. Kami diminta untuk berkunjung ke beberapa tempat dan mengambil gambar berbagai hal ikonik di sana. Untuk menjangkau lokasi tersebut, peserta harus menggunakan transportasi umum yang disyaratkan pada booklet. Siapa cepat, mereka yang menang. Jadi, peserta harus mampu berstrategi agar dapat menyelesaikan semua misi secepat mungkin.

Kami pun naik commuter line, metro subway, dan bus kota. Tempat dikunjungi tim saya dengan transportasi umum, antara lain Roppongi Hills yang terkenal dengan pusat perkantoran, pemerintahan, dan hiburan malam bergengsi, 'gudang'-nya elektronik murah juga atribut anime Akihabara, serta kuil turistis Asakusa.

Misi-misi yang mesti kami penuhi, antara lain

  • mengambil gambar Tokyo Tower dari gedung stasiun TV Jepang di Roppongi Hills,
  • berfoto dengan tokoh kartun Jepang di tempat yang sama,
  • mencoba purikura atau photo box khas Jepang dengan kostum di Akihabara (AKB),
  • berfoto dengan otaku, para anime geek,
  • mengambil gambar suasana pertokoan di Asakusa, dan lainnya.

Lucunya, justru panitialah yang menyamar menjadi otaku di Akihabara dan saya menyadari itu.

Di AKB, banyak pelajar Tokyo yang bermain di game center atau sekedar bernasis ria di purikura. Sst... photo box ini terbilang canggih, lho! Soalnya, subjek foto bisa memberi beragam sentuhan pada hasil foto. Misalnya, pembesaran atau pengecilan bagian-bagian di wajah seperti mata dan pipi serta mempermulus kulit. Mereka juga bisa menghias foto dengan atribut huruf dan emoticon yang tersedia lengkap. Jika pelanggan ingin memperoleh soft copy-nya, mereka tinggal cantumkan alamat e-mail dan foto pilihan segera dikirim ke sana.

Akiba, nama lain Akihabara, juga terkenal dengan para gadis kawaii-nya yang suka berpenampilan a la cosplay. Tak heran, perempuan berkostum maido ada dimana-mana. Biasanya, mereka membagikan brosur kepada pejalan kaki di sepanjang pertokoan Akiba.

Satu informasi penting lagi, girl band nomor satu di Jepang, AKB48, markasnya di sini, lho!

Akihabara menjadi tempat favorit hari itu karena mengingatkan saya akan masa-masa SMP dulu. Ketika masih remaja, saya memang sedang gemar-gemarnya bermain game dan mengikuti perkembangan animasi Jepang.

Dari Akiba, kami beranjak ke Asakusa. Di Kuil Asakusa, kami agak terburu-buru karena dikejar waktu berkumpul. Namun, saya menyempatkan diri untuk melempar koin dan (berlagak) berdoa, sekedar ingin menyelami budaya orang Jepang. Natsuki, salah satu panitia yang begitu perhatian, menawarkan untuk mengambil kertas ramalan. Saya pikir, coba saja sekedar untuk iseng. Alhasil, saya mendapat ramalan nomor tujuh yang dikenal sebagai kesialan terburuk. Natuski langsung menenangkan saya dan bilang, untuk menghalangi kesialan itu, saya mesti mengikatkan kertas tersebut di kawat penawar dengan tangan kiri. Lantas saya langsung teringat dengan program pendakian Gunung Fuji keesokan harinya. "Jangan-jangan..." pikir saya. Apalagi, sebelum berangkat ke Jepang, saya menonton film Frozen dengan pacar. Apakah nasib saya juga akan mirip dengan mereka yang ada di dalam film itu? Duh!

Sebenarnya ada lagi misi yang tidak sempat kami selesaikan karena waktu yang terbatas. Kami salah strategi karena terlalu lama menunggu giliran berfoto di Akihabara.

Kami pun menjadi salah satu kelompok terakhir yang berkumpul di gedung pusat pemerintahan Tokyo di Roppongi Hills.

Dari sana, kami beranjak ke Shinjuku untuk membeli keperluan untuk mendaki Gunung Fuji. Setelah itu, Yuka mengantar saya sampai ke Stasiun Koenji dan dijemput oleh Saki bersama sepeda keranjangnya. Sesampainya di rumah Keluarga Kiuchi, Saki membuatkan peta agar ke depannya saya dapat berjalan sendiri dari stasiun ke rumah.

Bersambung...